Minggu, 01 November 2009

Pidato Pemakaman Nan Membosankan

Oleh: Firdaus Putra A.

“Dalam kelebihan dan kekurangannya, saya merasa bangga pernah bergumul erat sebagai putra beliau”. Kutipan itu pernah terlintas dalam “imajinasi nakal” pidato pemakaman ayah saya.

Pidato pemakaman di desa dan kota di Indonesia, sebagian besar membosankan. Diwakili oleh orang tertentu—biasanya sesepuh atau kyai—keluarga akan menyampaikan sambutan tertentu. Kalau almarhum Muslim, beliau akan membuka dengan berbagai “ayat kematian”. Di tengahnya, berbagai petuah suci tentang takdir Tuhan ini dieksplorasi secara normatif. Pada bagian akhir, atas nama keluarga beliau mohon maaf atas segala kesalahan almarhum. Tak lupa beliau mengingatkan masalah hutang-piutang almarhum ditanggung sepenuhnya oleh keluarga. Demikian biasanya pidato pemakaman yang sempat beberapa kali saya saksikan.

Pidato pemakaman normatif nan membosankan seperti ini tak beda jauh dengan pengajian mingguan di langgar atau masjid. Bahasanya cenderung melangit dengan berbagai cantolan ayat suci. Eksplorasi sisi manusiawi dari takdir dan teks terasa kurang bahkan kabur. Saya kira tradisi kita, Indonesia, lebih gemar melangitkan ritual itu ketimbang membumikannya dalam konteks almarhum sebagai manusia.

Bandingkan, misalnya dengan tradisi—maaf—Barat yang bisa kita saksikan di momen/film mereka. Pidato pemakaman, meski diwakili oleh orang lain yang bukan anggota keluarga, namun menyuguhkan kesaksian riil tentang hidup almarhum. Mereka tak segan mengingat masa kecil atau masa muda almarhum. Sesekali ada kisah konyol dalam pidato itu. Ya, manusia riil tak selamanya “lurus”, ada kisah konyol/lucu yang justru mengesankan.

Pidato nan hidup itu lahir barangkali karena si wakil keluarga pernah secara langsung berhubungan dengan almarhum. Tidak ada manipulasi kisah atau pemaksaan kesaksian. Pidato itu merupakan ekspresi ketulusan dalam momen penghormatan terakhir. Seorang teman memberikan kesaksiannya dalam perjumpaan hidup tertentu bersama almarhum. Seorang anak akan mengilasbalikan bagaimana sosok almarhum di tengah keluarga, sebagai ayah dan sebagai seorang teman. Inilah pidato yang tak harus sempurna. Memang bukan kesempurnaan isi, melainkan ketulusan ekspresi.

Suatu ketika saya membayangkan, “Saya masih ingat ketika beliau pulang ke Indonesia tahun 2004 yang silam. Saat itu beliau peluk dan cium saya. Ya, beliau rindu, begitupun saya. Dua tahun beliau di Madinah yang seperempat waktunya berada di penjara”. Tentu saja teramat berat merekonstruksi masa lalu dan menghadirkannya kembali dalam momen “yang tidak main-main” itu. Lalu saya lanjutkan, “Sungguh berat saya bayangkan bagaimana beliau bertahan di dalam jeruji penjara karena lalai saat mengemudi mobil. Beliu adalah seorang TKI yang berangkat ke negeri orang untuk menafkahi saya, mbak, mas serta ibu saya. Peristiwa itu tidak akan pernah terlupakan bahwa almarhum adalah seorang pahlawan bagi kami”.

Kesaksian seperti itu bagi saya lebih mewakili isi hati keluarga daripada petuah dengan puluhan ayat suci. Ada keingingan untuk mengapresiasi almarhum secara tulus menjelang dimakamkan. Kesaksian ini bukan kesaksian picisan yang bisa kita temukan di buku-buku kumpulan khotbah Jumat atau semacamnya. Ini merupakan kesaksian yang bertalikelindan dengan lintasan kehidupan almarhum.

Pidato pemakaman saat ini sekedar salah satu unsur prosesi pemakaman. Tidak ada kesan yang mendalam selain seabrek pesan dari agamawan. Boleh jadi hal itu karena masyarakat kita kurang pandai berbicara di depan publik. Segala ihwal harus diwakili demi kesempurnaan acara: pernikahan, kelahiran, sunatan, pemakaman, tahlilan, syukuran dan berbagai hajat lainnya. Dengan ringan sohibul bait, sohibul hajat, atau keluarga yang ditinggalkan memesan pidato pada kyai. Menuliskan nama lengkap di secarik kertas dan mempercayakan seluruhnya pada si kyai itu.

Jujur saya jengah. Jengah dengan pidato basa-basi. Saya menginginkan sebuah tradisi pidato yang membumi dan manusiawi.

Dan kalaulah boleh dalam sebuah imajinasi saya katakan, “Beliau adalah ayah yang penyabar dan perasa. Tak jarang saya lihat beliau menangis di waktu tertentu. Beliau adalah teman diskusi yang terbuka. Mau menghormati pendapat saya meski kadang tak sejalan dengan pikirannya. Beliau adalah teladan baik yang paling dekat dengan saya. Saya mengaguminya sebagai seorang ayah, teman dan sosok yang patut diteladani”.

Di akhir pidato tak perlulah mengulang ihwal utang-piutang yang masyarakat pasti memahaminya. Alih-alih, saya akan mengatakan, “Seperti kehidupan, kematian adalah anugerah. Beliau sejauh saya tahu, sudah menghayati anugerah itu dengan sebaik-baiknya. Semoga Tuhan Yang Maha Kasih menerima beliau di sisi-Nya. Alfatihah …”. Bila memungkinkan, saya kira tak ada salahnya anggota keluarga yang lain atau teman almarhum memberikan kesaksiannya.

Saya rasa pidato pemakaman seperti inilah yang akan membuat almarhum tersenyum bahagia di alam sana. Bukan pidato yang penuh “ayat kematian” yang sudah sering kita dengar dan maklumi bersama. []

Inilah “Gaya Krikitiuw”

Oleh: Firdaus Putra A.

“Krikitiuw…!”, seru Rangga menirukan Sule dalam lakon Opera van Java. Bersweater Che Guevara, Rangga tampak kontras dengan Fakhri yang berkaos Bart Simpson. Siang itu, tampilan dua anak belia ini terlihat mencolok di antara kerumunan belasan anak-anak SMA RHS, Megamendung Bogor.

Rangga dan Fakhri sedang menjalani hukuman. Rangga lebih suka sweater Che-nya ketimbang kaos biru-hijau-putih, seragam olahraga sekolahnya. Kalau Fakhri lebih suka Bart Simpson. “Makanya dijemur”, kata Rangga.

Meski memakainya, ia tak tahu siapa sebenarnya si Comandante itu. “Itu kan penyanyi?”, tegasnya dengan mata berbinar. Seperti halnya Fakhri, ia tak tahu siapa ikon Bart Simpson. Hal itu membuat Penulis merasa geli.

Rangga dan Fakhri adalah remaja yang hidup di kawasan Megamendung. Daerah yang hanya beberapa kilometer sebelum Puncak Bogor. Di akhir pekan, jalur itu dipadati warga Jakarta yang berlibur. Wajarlah, mereka tidak memahami ikon-ikon itu. Mereka hidup di kawasan pinggiran. Namun, Fakhri tahu arti “krikitiuw”. Seruan itu ditujukan untuk menggoda cewek.“Seperti sebuah siulan”, katanya.

Inilah bentuk serangan budaya pop lain. Tak sekedar ikon pop Che, mereka juga sudah kenal pornografi. Soal Miyabi yang tak datang ke Indonesia pun mereka up date. “Cuma Rp. 3.000 saya bisa lihat gambarnya dari warnet di sebelah sekolah”, kata Rangga.
Buat mereka, perempuan, alkohol dan rokok adalah kawan karib pergaulan. Misalnya, Fakhri dan Rangga merokok sejak kelas dua SMP. Rangga bahkan pernah kepergok merokok di sekolah. Ia ditempeleng, sekali oleh guru. Rangga tidak sakit hati, “Ya gimana, memang salah”, tuturnya.

Di malam Takbiran yang lalu, Fakhri mengajak Marni ke vila di Puncak Bogor. Dengan Rp 75.000, Fakhri berkencan. Sesekali waktu ia mengajak temannya, Wawan. Bersama Yati, mereka bertiga mengulanginya.

Ridwan, tukang ojek, sering memergoki anak SMA check-in di vila Puncak. “Di atas mas, banyak”, ujarnya ketika menunggu penumpang. Memang vila di Puncak sudah terkenal dengan modus seperti ini. Tak hanya soal seks, kawin kontrak dengan pria asing juga sudah santer terdengar.

Inilah “gaya krikitiuw”. Potret budaya remaja kontemporer. Imitasi dan asal pakai budaya populer menjalar ke SMA di Megamendung. “Budaya pop memiliki energi yang dahsyat dalam mengubah seluruh sistem tanda”, ujar Raudal Tanjung Benoa, pemerhati budaya pop. “Apalagi jika hal itu berlangsung tanpa kritik yang menyadarkan”.

Masih menurutnya, “Perayaan publik atas berbagai mode, trend, gaya hidup, selera konsumtif, citra, merk dan benda-benda, hanyalah perayaan tanpa kemenangan; kecuali korban”. Ironisnya, tren ini mulai merasuk ke Rangga dan Fakhri, potret masa depan Indonesia dari Megamendung, Jawa Barat. “Krikitiuw…!”, seruan itu terdengar lagi di lantai tiga. Entah siapa lagi, “pelaku/korbannya”. []

Note:
Tulisan ini adalah hasil reportase lapangan dalam rangka Camp Menulis Tempo Institute 22-25 Oktober 2009. Mengingat kisah nyata, dengan alasan tertentu nama sekolah dan seluruh nama subyek saya samarkan.
.
KabarIndonesia.com

On This Blog

My Gallery

My Voice

YM State

Blog Archive

Your Comment


ShoutMix chat widget

Sponsor

Firdaus Activities

Menjadi Pembicara pada Diklat Jurnalistik Mahasiswa dan SMA:

7 November 2009 di STIE Muhammadiyah Pekalongan - PC IMM Pekalongan


Blog Award

Traffict Control







Free Page Rank Tool

Blog Terbaik
Donasi melalui rekening 139-00-0534511-5 Bank Mandiri KK Purwokerto Unsoed, a/n. Firdos Putra A. | Karena satu dan lain hal, saya tidak menerima banner exchange, silahkan baca di FAQ | Blog ini bisa diakses melalui http://mengintip-dunia.blogspot.com atau http://firdausputra.co.cc
Template by KangNoval & Abdul Munir | blog Blogger Templates